Kisah Kayafas Simbilap, Putera Papua dari Rumah Pohon Menembus Terang

Beritapapuaselatan.com, MERAUKE – Kisah inspiratif dari timur Indonesia ditorehkan seorang putera daerah asli Papua, Kayafas Simbilap.
Lahir dari rumah pohon di Kampung Bayanggop, Distrik Manggelum, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan pada 1 Desember 1976 silam kini sukses menembus terang.
Masa kecil Kayafas harus berjuang keluar dari jeruji perang suku kanibalisme. Meski harus menelan pahit, sang ayah menjadi korban kanibalisme.
“Waktu itu masih sistem perang suku, kanibalisme masih jalan. Bapak saya dibunuh dan dimakan. Karena seperti itu, saya punya bapak ade (paman, red) bilang, kalau anak ini (Kayafas, red) masih tinggal disini akan dicari, mereka bunuh. Maka anak ini harus saya kasih sekolah,” kenang Kayafas Simbilap kepada Beritapapuaselatan.com disela-sela kesibukannya.
Bersyukur pada Tahun 1979, Kayafas keluar dari Kampung Bayanggop menyusuri Kali Digoel untuk bersekolah pada guru-guru Belanda.
Mulai dari sekolah TK persiapan seperti buta aksara selama 3 tahun pada 1979-1982.
Kemudian masuk Sekolah Dasar (SD) Manggelum pada 1983.
“Saya masuk kelas 1-4 SD, tidak masuk kelas 5 karena pengamatan guru-guru bahwa anak ini mampu gabung masuk dikelas 6,” ujar Kayafas.
Selanjutnya, Ia lulus dari SMP YPPGI Kouh Tahun 1991/1992.
Saat itu, Kayafas tidak memiliki uang untuk melanjutkan SMA sehingga meminta bantuan pedagang asal Makassar dan Toraja untuk menjual barang dagangannya.
Hasil harga pokok dagangannya dikembalikan kepada pemilik.
Selebihnya Kayafas mengambil keuntungan hasil dagangan hingga terkumpul uang Rp 300.000 yang mengantarkan ke pendidikan lebih lanjut. Ia tinggal di asram.
“Saya langsung naik pesawat Twin Otter, Merpati kecil dari Bandara Tanah Merah ke Jayapura. Daftar masuk ke SMEA Negeri Kotaraja, Jayapura Tahun 1993 dan lulus 1996,” ungkapnya.
Sebelum masa kelulusan, Kayafas mendapat tempat magang di Samsat Jayapura bersama dua rekannya.
Ia mendapat penilaian tersendiri dari Kepala Samsat hingga ditawari bekerja membantu di kantor tersebut.
“Tawaran membantu di Samsat itu awalnya saya tanggapi dingin, karena saya fikir Kepala Samsat cuma main-main sehingga saya bersiap-siap pulang kampung ke Tanah Merah saat tamat SMA. Bahkan sudah lapor tiket,” lugasnya.
Disela-sela rencana pulang kampung, Kayafas mengisi waktu dengan bekerja sebagai kuli bangunan untuk menambah pundi-pundi biaya hidup.
“Sebenarnya hari Minggu saya beli tiket untuk terbang ke Tanah Merah hari Senin, tapi hari Sabtu Kasubbag UPT Samsat Jayapura datang cek saya di asrama agar saya Senin kembali bekerja di kantor Samsat dan saya datangi,” sebut Kayafas.
Disinilah awal mula Kayafas bekerja secara resmi sebagai penjaga Kantor Samsat Jayapura, petugas kebersihan dan menaikkan serta menurunkan bendera.
Sejak 9 Desember 1996 sampai dengan 2007 bekerja sebagai tenaga harian digaji Rp 50.000/bulan.
Selama 11 tahun pengabdian, Kayafas akhirnya diangkat menjadi tenaga honorer daerah (honda) golongan II a.
Namun, Kayafas sudah mempersipkan diri sejak 2003 masuk kuliah di Jurusan Hukum Tata Negara Universitas Cenderawasih (Uncen) berkat hasil kerja sebagai tenaga bantu di Samsat.
Ia pun diwisuda Tahun 2008 sehingga pada 2011 diangkat menjadi pegawai negeri golongan IIIa karena menyesuaikan lulusan Strata Satu (S1), tanpa melalui golongan IIb.
2013 Kayafas diangkat menjadi staf di Kantor Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Papua.
Karena dinilai cakap, 2014, ia dilantik sebagai Kasie Penetapan UPT Samsat Boven Digoel.
Ditarik lagi sebagai Kasubbid Pengendalian dan Pengawasan Bidang Pengembangan dan Pengendalian Bapenda Provinsi Papua Tahun 2016.
Dilantik sebagai Kasubbid Pendapatan Bidang Pajak Bapenda Provinsi Papua 2017.
Oktober 2020, dilantik sebagai Kasie Penagihan Pembukuan dan Pelaporan UPT Samsat Yahukimo.
November Desember ada surat edaran Sekda Provinsi Papua yang juga Pj Gubernur Ridwan Rumasukun bahwa bagi pejabat yang mau relokasi ke Daerah Otonomi Baru (DOB) agar melamar.
“Saya melamar atas dorongan Kepala Bapenda yang sekarang Asisten II Setda Provinsi Papua MB. Setyo Wahyudi, SE, MN, saya punya mentor/guru walau beliau orang pendatang dari Jawa namun yang mendorong Orang Asli Papua (OAP) untuk sukses,” ungkapnya.
“Dalam hidup tidak bisa saya lupa, beliau orang Jawa tapi sangat memiliki hati untuk OAP,” sambung Kayafas penuh haru.
Pada akhirnya 4 Januari 2023 lalu, Kayafas menduduki posisi Plt Kepala UPPD Samsat Merauke.
“Pesan mama yang selalu saya ingat, ko pergi merantau untuk sekolah, ko jangan kembali. Artinya pergi sekolah terus, dapat kerja dimana saja pergi, mama meninggal jangan datang,” ungkap Kayafas penuh haru.
Pesan ibunda telah ditunaikan. Mantri dan guru injil yang menjadi motivasi baginya untuk bersekolah pun sudah mengantarkan Kayafas sebagai Pegawai Negeri Sipil/Aparatur Sipil Negara dan menduduki jabatan mentereng sesuai bidangnya.
Momen bahagia sudah dirasakan Kayafas saar bertemu sang ibu dua kali pada Tahun 1998 dan 2001.
Saat pulang kampung ke Boven Digoel Desember 2001, Kayafas mengajak sang ibu tinggal bersamanya di Jayapura. Namun, sang ibu memilih menetap tinggal di Bayanggop.
“Pesan untuk generasi muda, mari sekolah nak. Apalagi orangtua sekarang sudah kasih uang, kasih makan dan uang saku untuk anak-anaknya,” tandas Kayafas Simbilap. (Hidayatillah)




