BERITA PAPUA SELATAN

Membangun dari Batas Negeri

Berita Foto Nasional Pendidikan

Menembus Tantangan Pendidikan di Animha Merauke

Pendidikan

Beritapapuaselatan.com, MERAUKE – Rendahnya kehadiran dan keterlibatan siswa menjadi salah satu tantangan pendidikan yang nyata dihadapi oleh guru di Distrik Animha, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang coba dijawab Tim 18 Ekspedisi Patriot 2026 melalui pelatihan Pedagogi Aktif melalui Project-Based Learning/PjBL (PELAJAR), Jumat (18/9/2026).

Melalui pendekatan Project-Based Learning, guru didorong mengubah pembelajaran dari sekadar penyampaian materi menjadi proses yang melibatkan siswa secara langsung melalui proyek, pengalaman, dan lingkungan disekitar mereka. 

Pendekatan ini diharapkan membuat pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan nyata siswa sehingga mereka lebih terlibat dalam proses belajar.

Pelatihan yang berlangsung di Aula SMP Negeri Wayau. 

Kegiatan diikuti guru dan kepala sekolah dari satuan pendidikan di Wayau dan Baad, dengan menghadirkan Syahfitriani Br. Ginting, S.Pd., M.Pd., dosen FKIP Universitas Musamus, sebagai pemateri.

Ketua Tim 18 Ekspedisi Patriot 2026, Dr. Adi Hadianto, S.P., M.Si. mengatakan, rangkaian pelatihan ini disusun berdasarkan hasil observasi dan identifikasi kebutuhan yang dilakukan di lapangan.

“Pelatihan guru ini merupakan seri pertama dari enam rangkaian pelatihan yang disusun berdasarkan kebutuhan yang kami temukan di lapangan,” ujarnya. 

“Materi yang diberikan dirancang secara bottom-up agar selaras dengan persoalan dan kebutuhan guru dalam proses pembelajaran.” sambung Adi.

Selama sekitar empat bulan, Tim 18 Ekspedisi Patriot 2026 menjalankan tiga fokus pemberdayaan yang mencakup penguatan kapasitas guru, pengembangan kelompok ikan asin, serta pendampingan BUMK. 

Bidang pendidikan diarahkan pada penguatan metode pembelajaran dan literasi digital bagi guru di Baad dan Wayau.

Kepala Distrik Animha, Mariny Renyut, S.TP., M.A.P. mengatakan, pendidikan di Animha masih menghadapi tantangan.

Terutama terkait keaktifan dan kehadiran siswa. 

Kondisi keluarga dan lingkungan juga menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan dalam merancang pembelajaran.

“Karena itu, pembelajaran yang dekat dengan kehidupan siswa dinilai penting. Lingkungan alam, kehidupan masyarakat, dan potensi lokal di sekitar sekolah dapat dimanfaatkan sebagai sumber maupun objek pembelajaran,” kata Mariny.

Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip PjBL yang diperkenalkan dalam pelatihan. 

Siswa tidak hanya menerima materi, tetapi diberi ruang untuk mengamati, mencari informasi, berdiskusi, melakukan percobaan, menghasilkan karya, dan merefleksikan pengalaman belajar.

Guru diperkenalkan pada penyusunan modul ajar, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), serta instrumen penilaian. 

Praktik penyusunan bahan ajar juga dilakukan dengan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu. 

Materi dikembangkan dengan menyesuaikan kondisi, kebutuhan, dan potensi lingkungan sekitar sebagai sumber belajar yang kontekstual. (Hidayatillah)

Spread the love

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page