BERITA PAPUA SELATAN

Membangun dari Batas Negeri

Berita Ekonomi Foto Lifestyle Nasional Pemerintah Daerah Pendidikan Sosial Politik

Tim Ekspedisi Patriot IPB Petakan Rantai Bisnis Beras Merauke

Bagaimana agar bisnis beras di Merauke tidak hanya menghasilkan banyak gabah, tetapi juga memberikan keuntungan yang lebih baik bagi petani dan pelaku usaha lainnya? 

Beritapapuaselatan.com, MERAUKE – Bagaimana agar bisnis beras di Merauke tidak hanya menghasilkan banyak gabah, tetapi juga memberikan keuntungan yang lebih baik bagi petani dan pelaku usaha lainnya? 

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Focus Group Discussion (FGD) analisis rantai nilai dalam penguatan ekosistem bisnis beras lokal Merauke yang digelar Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University di aula Kodam XXIV/Mandala Trikora, Sabtu (29/8/2026).

FGD tersebut merupakan bagian dari Program Ekspedisi Patriot 2026 hasil kerja sama Kementerian Transmigrasi dengan IPB University. 

Menariknya, forum ini tidak hanya mempertemukan akademisi dan pemerintah. 

Petani, penyuluh, pengelola rice milling unit (RMU), pemerintah distrik dan kampung, TNI-Polri, hingga pelaku usaha yang bergerak disektor hotel, restoran, kafe (HOREKA), dan swalayan turut dilibatkan. 

Mereka duduk bersama untuk membicarakan satu hal: bagaimana memperkuat bisnis beras lokal Merauke dari hulu sampai hilir.

Ketua Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University, Dr. Doni Sahat Tua Manalu, S.E., M.Si. melalui timnya melihat bahwa persoalan bisnis padi tidak bisa diselesaikan hanya dengan meningkatkan produksi disawah. 

Setiap mata rantai memiliki persoalan dan saling berhubungan.

Dalam FGD, berbagai persoalan muncul dari tingkat budidaya hingga pemasaran. 

Petani menyampaikan kendala kekeringan, keterbatasan benih unggul, BBM solar subsidi, jalan usaha tani, pintu air, pompa, hingga keterbatasan alat panen. 

Disisi lain, pelaku pascapanen juga menghadapi kebutuhan alat pengukur kadar air gabah untuk menjaga kualitas hasil pengeringan.

Kapolsek Tanah Miring, Wilustono menekankan pentingnya menjaga agar tidak ada mata rantai bisnis padi yang terputus.

“Rantai nilai bisnis padi jangan ada yang terputus. Semua pihak diharapkan sama-sama mendapatkan keuntungan yang baik. Karena itu, perlu ada intervensi di setiap rantai,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam diskusi. 

Ketika petani kesulitan mendapatkan air atau benih, produksi akan terganggu. 

Ketika hasil panen sulit dikeluarkan dari sawah karena jalan usaha tani buruk, biaya dan risiko meningkat. 

Ketika alat panen terbatas, waktu panen dapat tertunda. 

Begitu pula ketika pasar masih terbatas, petani memiliki sedikit pilihan untuk menjual hasil produksinya.

Kabid Transmigrasi Kabupaten Merauke, Yanuarius Yoseph Resubun mengajak seluruh peserta mengikuti FGD secara serius karena berbagai masukan yang muncul dapat menjadi bahan rekomendasi untuk pemerintah.

“Rekomendasi dari Tim Ekspedisi Patriot akan menjadi bahan pertimbangan bagi kementerian terkait,” lugasnya. 

Ia berharap, kedepan beras Merauke tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan lokal, tetapi memiliki peluang untuk dipasarkan hingga ke luar wilayah.

Dari sisi petani, persoalan yang disampaikan sangat konkret. 

Dikesempatan yang sama, Ketua Brigade Pangan SP4 Distrik Tanah Miring, Margono menyampaikan kebutuhan penambahan pintu air, pompa, benih unggul, serta alat panen seperti combine harvester. 

Sementara itu, petani SP4, Musa menyoroti sulitnya mendapatkan BBM solar subsidi.

Masalah serupa disampaikan, Sekretaris Kampung SP2, Mex. 

Menurutnya, alat pertanian di wilayahnya relatif tersedia, tetapi kebutuhan solar masih belum mencukupi. 

Jalan usaha tani juga menjadi persoalan karena menyulitkan petani membawa hasil produksi keluar dari lahan. 

Ia juga berharap subsidi pupuk hitam dapat kembali diberikan.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Doki Efendi, salah satu anggota Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University, menyampaikan bahwa persoalan yang disampaikan masyarakat akan menjadi bagian dari rekomendasi tim.

“Untuk jalan usaha tani dan pintu air, masukan dari masyarakat ini akan kami masukkan ke dalam laporan rekomendasi,” jelasnya. 

“Kami juga sudah mendapat arahan dari Staf Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden agar usulan masyarakat disusun dalam bentuk matriks atau proposal sehingga dapat diteruskan kepada bidang yang terkait,” sambung Doki.

Bagi Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University, FGD ini bukan sekadar tempat menyampaikan keluhan. 

Forum tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana setiap pelaku terhubung dalam bisnis padi Merauke dan dimana titik yang perlu diperkuat.

Seluruh masukan yang terkumpul akan menjadi bahan bagi Tim 5 untuk menyusun rencana tindak lanjut dalam tiga bulan kedepan.

Harapannya, penguatan tidak hanya dilakukan pada produksi padi, tetapi juga pada hubungan antarpelaku, akses pasar, sarana pendukung, dan kelembagaan ekonomi yang membuat seluruh mata rantai dapat bergerak bersama.

Dengan demikian, pengembangan beras lokal Merauke diharapkan tidak berhenti pada seberapa banyak padi yang dipanen, tetapi juga pada seberapa besar nilai ekonomi yang dapat kembali kepada petani dan seluruh pelaku yang berada di sepanjang rantai bisnisnya. (Jurnalis: Adlan / Redaktur: Hidayatillah)

Spread the love

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page